More about P3H

Foto saya
Salatiga, Jawa Tengah, Indonesia
Pusat Pengembangan Pelayanan Holistik (P3H), adalah sebuah forum bersama milik 6 sinode anggota Reformed Ecumenical Church (REC) yang berkantor di Salatiga. Anggota P3H antara lain : Gereja Kristen Jawa (GKJ), Sinode Gereja Kristen Indonesia Sinwil Jateng (GKI Sinwil Jateng), Gereja Kristen Sumatera Bagian Selatan (GKSBS), Gereja Toraja (GT), Gereja Toraja Mamasa (GTM) dan Gereja Kristen Sumba (GKS). Melalui media online ini, kami berharap kegiatan P3H sebagai forum bersama milik gereja, dapat dibaca lebih luas dan lebih cepat, khususnya bagi pembaca yang dapat mengaskes internet. Kami berharap masukan dan saran dapat diberikan kepada Buletin Holistik, demi perbaikan buletin Holistik serta tampilannya secara online ini. Selamat membaca.

Jumat, 20 Mei 2011

Holistik Berbagi

Tidak terasa, sudah lebih dari 10 tahun P3H melayani jemaat-jemaat anggotanya. Selama satu dekade ini tentunya banyak transformasi yang telah terjadi pada pribadi, keluarga, atau komunitas yang kami layani. Pembaca Holistik, kami menantikan tulisan anda mengenai transformasi untuk disebarluaskan kepada seluruh pembaca melalui buletin Holistik agar semakin banyak lagi pribadi yang diberkati. 

syarat penulisan:
- tema umum tentang transformasi
- tulisan sebanyak 1/2-1 halaman (uk. kertas A4, font Times New Roman 12, 2 spasi).

Kirimkan tulisan anda ke alamat redaksi Holistik
Jl. Cemara II No. 23 Salatiga, Jawa Tengah 50712.
atau melalui e-mail ke p3h.002@gmail.com

Tulisan paling lambat diterima oleh redaksi tanggal 31 Juli 2011.   
Pembaca yang tulisannya terpilih, akan mendapatkan hadiah dari Holistik dan tulisannya akan dimuat dalam Holistik edisi berikutnya.

Tanggap Bencana Erupsi Gunung Merapi di Yogyakarta

P3H dan CRWRC memfasilitasi Tim Tanggap Bencana dari Derap Kemanusiaan dan Perdamaian DKP GKI Sinwil Jateng (Departemen Kesaksian dan Pelayanan GKI Sinode Wilayah Jawa Tengah) dalam melakukan respon bencana erupsi gunung Merapi. Respon dilakukan di beberapa wilayah yang terkena dampak erupsi Merapi, yaitu Yogyakarta, Muntilan, Magelang, Boyolali dan Klaten. Gereja lokal (GKI dan GKJ) bekerja sama dalam menggalang dan menyalurkan bantuan kepada para penyintas. Di samping itu, Tim tanggap bencana juga membuka tempat pengungsian dan dapur umum.
          
Selain memenuhi kebutuhan jasmani mereka, tim tanggap bencana juga memberikan pasokan kebutuhan rohani. Seperti yang dilakukan oleh tim tanggap bencana GKI dan GKJ di Klaten, misalnya dengan hiburan badut dan lawak, pemutaran film, dan penyelenggaraan ibadah. Bagi jemaat yang Kristen, diselenggarakan ibadah minggu yang dilayani oleh GKI dan GKJ. Sedangkan bagi yang beragama muslim, disediakan musholla plus sajadah dan mukena. Tim juga mengundang ustadz dari banser NU memberikan siraman rohani. 
          
Pasca tanggap darurat, para pengungsi pun berpamitan pulang. Kepada pengungsi yang pulang, tim tanggap bencana di Klaten memberikan bekal bahan pangan untuk kebutuhan selama seminggu. Setiap orang dewasa mendapat 5 kg beras, 1 L minyak goreng, 1 kg gula pasir, kecap, abon, the, dan bumbu dapur. Selain itu juga dibagikan sapu ijuk, sapu lidi, serok sampah, dan peralatan mandi.
          
Tim tanggap bencana di GKI dan GKJ Klaten juga membantu masyarakat membersihakan bak penampung air yang tercemar oleh abu dan pasir. Tim ini mengerahkan mesin pe-nyedot air untuk menguras air kotor tersebut. Selanjutnya, mereka juga memasok 2 tangki air bersih (10 ribu liter) kepada setiap pemilik tandon air.

Rencana jangka panjang dari tim tanggap bencana adalah menghijaukan kembali lereng Merapi. Bekerja sama dengan Banser NU, tim telah mulai menanami lereng Merapi dengan bibit-bibit tanaman, seperti trembesi, sengon laut, sengon cyclo, mindi, akasia, cengkeh, jambu biji, sirsak, damar, kelengkeng, jabon, dan kayumanis. Jumlah bibit yang sudah ditanam mencapai 47.000 bibit.


Adonan Kue Kehidupan
Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.
Roma 8:28

Dua orang anak laki-laki menceritakan kepada neneknya betapa buruknya hari mereka : ada orang yang mengganggu mereka di sekolah, orangtua mereka memarahi mereka, dan mereka terkena flu.
Sang nenek mendengarkan keluh kesah kedua cucunya itu dengan sabar sambil membuat adonan kue. Kemudian nenek itu bertanya apakah kedua anak itu mau makanan ringan, tentu saja keduanya mau.
“Ini, ada sebotol minyak goreng,” ujar sang nenek. “Menjijikkan..” ungkap salah satu anak laki-laki itu. “Bagaimana jika dua butir telur ini?” “Tidak enak, nek,” sahut yang satunya. “Baiklah, bagaimana jika tepung ini saja? Atau mau baking soda saja?” ”Nenek, semua itu tidak enak!” kata mereka bersamaan.
Akhirnya sang nenek pun menjelaskan: “Ya, semua itu terasa tidak enak jika kamu makan sendiri-sendiri. Tetapi kalau kamu menggabungkan semuanya dan mengaduknya hingga merata, semua itu bisa berubah menjadi sebuah kue yang lezat. Tuhan bekerja dengan cara yang sama. Seringkali kita bertanya mengapa Tuhan mengijinkan kita mengalami hal-hal buruk berulang kali. Tetapi Tuhan tahu bahwa jika Dia menyatukan semua hal-hal buruk itu sesuai dengan kehendak-Nya, maka hal itu akan mendatangkan kebaikan! Kita hanya perlu percaya kepada-Nya dan akhirnya segala sesuatunya akan menjadi indah.”

Jika Anda mengalami hal buruk hari ini, ingatlah nasihat nenek di atas, bahwa jika Anda mengijinkan Allah bekerja dalam hidup Anda, pada akhirnya semua itu akan mendatangkan kebaikan, bukan bagi Anda saja namun juga bagi orang-orang di sekeliling Anda.
(sumber: jawaban.com)

Kamis, 02 April 2009

Edisi IX/ Januari/ 2005

DARI DAPUR REDAKSI


AYO MENULIS

Selamat berjumpa kembali dengan buletin edisi tahun baru! Bagaimana keadaan para pembaca sekalian? Semoga di tahun baru ini, semua berjalan sesuai rencana. Kalau pun belum, jangan terlalu kecewa. Bukankah hari ini masih menawarkan kesempatan kita untuk menyelesaikan tugas dan tanggung jawab? Jadi, jangan ditunda-tunda lagi ya. Nanti tau-tau sudah 2006 lho, hehe...
Adakah nuansa yang berbeda dari tahun sebelumnya? Oya, kita punya pemimpin negara yang baru beberapa bulan menjabat sebagai Presiden. Prestasi baru kita sebagai masyarakat Indonesia yang perlu dibanggakan adalah memilih presiden dengan aman dan demokratis. Mudah-mudahan prestasi yang membanggakan ini dapat dilanjutkan dengan memberikan pengawasan dan kontribusi untuk mewujudkan cita-cita bersama pada tahun yang baru ini. Pelajaran berharga bagi para elit politik dan pemimpin bangsa adalah bahwa rakyat Indonesia mampu menjalankan pilihannya tanpa kekerasan. Rakyat Indonesia bukan rakyat yang bodoh dan hanya mengekor saja.
Kini, kami membawa kabar dari kantor P3H yang juga semarak dengan kesibukan-kesibukan nan lalu lalang. Beberapa waktu lalu, P3H diundang mengikuti pertemuan mitra kerja CRWRC Asia di Filipina; kemudian menggelar pelatihan penanggulangan bencana; pelatihan Capacity Building juga tidak absen dan saat ini kami sedang mempersiapkan bahan untuk evaluasi bulan Januari ini. Meskipun tampaknya kesibukan ini silih berganti, tetapi kami tidak ingin menggeser fokus kami yakni melayani gereja-gereja agar lebih mampu melakukan pelayanan yang holistik, berdampak lebih luas kepada masyarakat. Bicara tentang dampak, saat ini P3H sedang melakukan sebuah survey melalui angket yang kami kirim kepada para pendeta dan gereja-gereja yang selama ini mendapatkan kiriman Buletin dan Bahan Pemahaman Alkitab. Tidak semuanya memang, kami hanya mengambil sampel saja. Tujuan survey ini tak lain adalah mengetahui sejauh mana dampak buletin dan bahan PA, apakah memberi manfaat bagi para pembaca atau tidak. Hasilnya akan menjadi masukan dalam perbaikannya di kemudian hari.
Oya, masih ingat dengan sayembara penulisan artikel tentang Pelayanan Holistik? Kok sampai sekarang, redaksi baru menerima sedikit artikel? Wah, rupanya sedang musim sibuk mungkin. Tapi siapa tahu masih ada yang berminat, untuk itu kami memperpanjang sayembara tersebut. Ayo, jangan ragu-ragu untuk menulis. Menulis itu sehat lho.
Tahun ini, redaksi berencana membuat beberapa rubrik tambahan sebagai selingan, sekaligus mendorong partsipasi pembaca di dalamnya. Karena itu, redaksi menerima kiriman artikel dengan tema apa saja baik opini maupun liputan kegiatan di gereja, lembaga ataupun masyarakat di mana pembaca berada. Tanpa banyak basa-basi, silakan menikmati buletin edisi Januari. Mudah-mudahan bermanfaat bagi pembaca sekalian. Selamat Natal 2004 & Selamat Memasuki Tahun Baru 2005. Tuhan memberkati.(*)


------------------------------------------------------------

OLEH-OLEH

TRANSFORMASI


“ Karena itu saudara-saudara, demi kemurahan Allah, aku menasehatkan kamu,
supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus,
dan yang berkenan kepada Allah; Itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu
menjadi serupa dengan dunia ini tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu,
sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah : apa yang baik, yang
berkenan kepada Allah dan yang sempurna” (Roma 12:1-2)




Dalam Asia Partner Assembly atau pertemuan antar mitra se-Asia yang diselenggarakan oleh CRWRC di Filipina pada 25-27 Oktober 2004, tema besar yang diangkat adalah “Transformed Lives, Transformed Community”. Berbicara tentang transformasi atau perubahan, jauh hari sebelumnya, surat Paulus kepada jemaat di Roma telah memakai kata Transformasi ini. Teologi transformasi diinspirasikan (salah satunya) oleh perkataan Paulus tentang perubahan seperti dalam nats di atas.
Adalah Eugenio Araiza Bahena, Direktur Umum The Mexican Association for Rural and Urban Transformation (Amextra), sebuah lembaga pengembangan masyarakat di Meksiko menjadi pembicara yang membagikan pemahaman sekaligus pengalaman Amextra dalam upaya mewujudkan transformasi. Ini adalah beberapa petikan intisarinya.
Seperti kita ketahui, perjalanan hidup kekristenan kita adalah sebuah proses transformasi karena iman kita menyentuh setiap bagian kehidupan. Hati, pikiran, jiwa dan tubuh kita secara terus menerus diperbarui dan dibentuk oleh Tuhan. Transformasi ini semestinya menghasilkan perubahan dalam tingkah laku sebagai orang Kristen.
Melalui iman, kita diberi pandangan baru tentang kenyataan (hidup). Dalam proses transformasi, kita dipanggil untuk terus menerus merefleksikan pembaharuan atas pekerjaan Tuhan di dalam kita dengan keluarga dan masyarakat kita. Berbekal pengetahuan akan betapa berharganya kita di mata Tuhan dan masyarakat, kita dimampukan mentransformasikan kenyataan hidup ke arah apa yang Tuhan kehendaki yakni sebuah lingkungan yang menguntungkan bagi pengembangan potensi; panggilan pribadi dan sosial kita.
Transformasi adalah sebuah proses yang berkelanjutan, bukan semata untuk mencapai satu tujuan khusus, melainkan lebih pada partisipasi berkelanjutan dari masyarakat, yang merefleksikan setiap pengalaman baru dalam terang injil. Kecenderungan kita untuk berpikir bahwa hasil transformasi adalah sesuatu yang sangat konkrit dan dapat diukur (tentu saja kita perlu punya hasil nyata) tetapi ini bukan yang terpenting dan memberi dampak. Bila kita memahami bahwa Kerajaan Allah adalah pelebaran tubuh Kristus yang tak ada habisnya, maka transformasi tidak hanya berakibat pada pengertian vertikal seperti bagaimana membuat sebuah organisasi, tetapi memperluas Kerajaan-Nya secara horizontal.
Sebagai sebuah proses, transformasi dimulai dengan pengenalan terhadap talenta yang Allah anugerahkan atas kita yang bisa dibagikan kepada sesama, sembari menemukan talenta orang lain yang bisa juga dibagi pada kita. Sehingga, transformasi terjadi dalam tindakan nyata saling memberi dan menerima talenta yang sudah diberikan Tuhan pada kita. Dengan demikian kita bisa merasakan bekerjanya setiap anggota tubuh Kristus, tidak saja secara individu tetapi dalam sebuah masyarakat yaitu komunitas yang mengundang orang lain tanpa membedakan usia, jenis kelamin, keadaan ekonominya, agamanya, atau orientasi politiknya, untuk ikut serta dalam proses ini dengan saling menerima dan membagikan talenta dalam rangka membentuk masyarakat baru yang misinya adalah mewujudnyatakan Kerajaan Allah yakni damai sejahtera.
Transformasi bukan apa yang kita lakukan pada orang lain, tetapi tranformasi adalah apa yang Tuhan lakukan atas kita ketika kita masuk ke dalam hubungan yang setara dengan orang lain. Kita tidak melayani karena kita sudah ditranformasikan, melainkan kita ditransformasi ketika kita melayani. Untuk itulah kita ada, bagi sesama dan lingkungan di mana kita tingga.


------------------------------------------


AKTIVITAS KITA

1. P3H Ikuti Asia Partner Meeting Assembly

Pada Bulan Oktober 2004 lalu, beberapa orang dari P3H berkesempatan untuk mengikuti Asia Partner Meeting Assembly di Filipina. Salah satunya Semuel Takanjanji dari Yayasan Kuda Putih Sejahtera (KPS) Sumba. Sedianya, wakil kita ini akan menyajikan presentasi mengenai pelayanan KPS di Sumba khususnya dalam mengembangkan perekonomian masyarakat, kepada peserta lain yang datang dari beberapa negara di Asia, seperti India, Bangladesh, Kamboja, Laos, Filipina serta beberapa dari Amerika bahkan Meksiko. Namun, apa daya pada saat akan berpresentasi itulah, laptop milik Pak Nick yang akan digunakan, malah dicuri orang di hotel tempat kami menginap. Alhasil meskipun kecewa tiada tara, tetapi setidaknya ada banyak pengalaman dan pelajaran yang bisa kami dapat dan ceritakan. Acara ini digelar oleh Christian Reformed World Relief Committee (CRWRC) untuk mempertemukan mitra-mitra kerja CRWRC yang selama ini bekerjasama khususnya di Asia. Tujuannya adalah untuk mendengar sharing pengalaman dan best practice dari masing-masing mitra, dengan demikian satu sama lain bisa saling menguatkan. Selain seminar, para peserta juga berkesempatan melakukan kunjungan lapangan. Beberapa di antaranya ke kelompok Micro Finance berbasis tabungan di Manila, Los Banos, Buhi dan Legazpi.


2. Pelatihan Penanggulangan Bencana
Salah satu kesepakatan bersama yang diambil dalam pertemuan Kespel P3H Mei 2004 lalu telah berhasil dilaksanakan. Kesepakatan itu adalah diadakannya pelatihan Penanggulangan Bencana. Pelatihan telah diselenggarakan di Hotel Dhyana Pura Bali, pada 1-3 November 2004 dan diikuti oleh 12 peserta, utusan dari Sinode GKS, GTM, GKI Sinwil Jateng ( yang mengutus anggota Depkespel, GKI Kebayoran Baru, GKI Cinere), GKSBS dan GKJ. Dalam kesempatan itu, Jacob Kramer, dari Canadian Food Grain Bank Kanada yang juga adalah dari Disaster & Relief Service CRWRC menjadi pembicara.
Kramer menyajikan materi seputar Pengenalan tentang Relief (bantuan kemanusiaan), hubungan Relief dan Community Development (pengembangan masyarakat), bagaimana struktur kerja dalam organisasi kemanusiaan di CRWRC dikembangkan dan beberapa tips penulisan proposal bantuan. Selain itu juga ada sesi penggalian pangalaman dari masing-masing sinode dalam hal penanggulangan bencana. Acara ini berjalan lancar, sekalipun sempat tertunda satu hari karena Kramer mengalami hambatan teknis sewaktu berada di bandara Singapura. Dalam penjelasannya, Kramer tetap menggunakan bahasa Inggris, yang kemudian diterjemahkan. Peserta mengaku terkesan dan berharap P3H dapat mengundang lebih banyak utusan dari gereja-gereja bukan hanya sinode.


3. Pelatihan CB di 12 sinode SAG Sulutteng
Menindaklanjuti kegiatan Training of Trainers (ToT) Pengurus Harian Sinode Am Gereja-gereja Sulawesi Utara dan Tengah (SAG Sulutteng) dengan P3H pada bulan Agustus lalu, Iskandar Saher beserta para peserta ToT mulai melakukan pelatihan bagi 12 sinode SAG di wilayah Sulutteng. Pelatihan yang dipusatkan di beberapa daerah seperti di Menado, Kotamobagu, Luwuk, Palu dan Tentena ini sudah diawali pada 3- 20 November 2004; dan dilanjutkan pada 8-15 Desember 2004. Materi yang disampaikan adalah Capacity Building, E-mail dan Internet serta Sistem Keuangan. Materi yang sama juga sudah dipakai untuk pelatihan di Gereja Kristen Sulawesi Selatan (GKSS) dan Gereja Masehi Injili di Halmahera (GMIH).

4. Penyebaran Angket Survey
Dalam rangka meningkatkan kualitas dan efektivitas kerja P3H, maka pada bulan November 2004 ini, P3H menyebarkan sejumlah angket kepada beberapa pendeta dan gereja-gereja yang dilayani oleh P3H selama ini. Fokus angket adalah mengetahui dampak dan efektivitas pemanfaatan Buletin Holistik sebagai sarana komunikasi dan informasi P3H selama ini serta Buku Bahan Pemahaman Alkitab yang sudah dikirimkan beberapa waktu lalu. Untuk efisiensi, P3H hanya mengambil beberapa orang sebagai sampel yang diharapkan hasilnya dapat mewakili seluruhnya. Melalui survey ini, diharapkan P3H mendapat masukan sebagai usaha untuk meningkatkan efektifitas pelayanan di masa mendatang.

5. Evaluasi CRWRC Indonesia
Setelah bekerja selama sekian tahun di Indonesia dan sejak tahun 2001 telah mendukung P3H dalam pelayanannya terhadap gereja-gereja di Indonesia, maka pada bulan Januari 2005, CRWRC Indonesia akan dievaluasi. Evaluasi ini bertujuan untuk melihat kembali apakah yang dilakukan selama ini telah sesuai dengan harapan dan melihat kemungkinan apakah pelayanan CRWRC di Indonesia dapat terus dilanjutkan untuk mendukung pelayanan gereja-gereja di masa datang. Mengingat pentingnya evaluasi ini, kami mohon dukungan doa para pembaca yang budiman, agar proses ini dapat berjalan dengan lancar dan menghasilkan keputusan terbaik.


----------------------------------------------------

BERBAGI

Emergency + Vulnarebility = Disaster


Apakah judul di atas adalah rumus baru? Seperti rumus trigonometri atau relativitas itu? Ya, boleh dibilang mirip. Tetapi ini adalah rumus untuk mendefinisikan apa itu Disaster. Disaster dalam bahasa Indonesia berarti bencana. Istilah ini sangat akrab di telinga kita. Setiap saat ketika ada musibah : banjir, tanah longsor, kebakaran, gunung meletus, dan sebagainya kita mengatakan itu adalah bencana. Bahkan ketika rumah seorang pengusaha kaya raya terbakar habis, orang menyebutnya bencana. Apakah sebenarnya bencana itu?Apa hubungan bencana dengan pengembangan masayarakat? Mari kita simak penjelasan Jacob Kramer -dari Canadian Food Grain Bank Kanada- yang disampaikannya dalam sebuah pelatihan Penanggulangan Bencana di Bali, November 2004.red

Apakah Bencana Itu?
Rumus dalam judul itu dapat dijelaskan sebagai berikut : Keadaan Darurat (Emergency) + Kerapuhan (Vulnerability) = Bencana (Disaster). Bencana adalah hal/keadaan darurat yang merupakan persitiwa (event) yang terjadi –seperti gempa, banjir, badai, dsb – yang menimpa banyak orang dan melumpuhkan pekerjaan mereka (menimbulkan kerapuhan dalam masyarakat). Tidak semua bisa dikatakan bencana. Misalnya : rumah pengusaha kaya Bill Gates terbakar. Peristiwa ini memang darurat (emergency) tetapi tidak merapuhkan Bill Gates, karena semua hartanya sudah diasuransikan, dia punya beberapa rumah lainnya, dan punya uang banyak. Dia mudah pindah ke rumah lain tanpa merasa kehilangan, atau tinggal di hotel berbintang.
Bencana sering dianggap sebagai suatu kejadian darurat yang terjadi dalam masyarakat yang sedang berkembang. Saat orang terkena bencana, semua segi kehidupan mereka harus dimulai dari nol lagi. Saat mereka terkena bencana inilah, relief (bantuan kemanusiaan) diberikan. Relief bertujuan untuk membawa orang yang kena bencana bangkit perlahan menuju perbaikan dalam kehidupannya. Dalam Relief, faktor kerapuhan orang yang tertimpa peristiwa darurat ini tidak boleh dilupakan. Rapuh tidak hanya disebabkan karena satu hal darurat, misalnya orang miskin terlihat rapuh karena mereka rentan dalam finansial dan rentan dalam pemikiran. Sehingga relief erat hubungannya dengan Community Development (Pengembangan Masyarakat) karena tujuan Relief juga bersifat mengembangkan masyarakat, yakni memberikan pelatihan atau bantuan yang mendidik, membangun orang-orang yang rentan tertimpa bencana. Sehingga fokus dari bantuan kemanusiaan adalah orang yang rapuh/rentan.

Relief dan Community Development
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memberikan bantuan yang “mengembangkan mayarakat” antara lain :
1. Melibatkan masyarakat
Gereja perlu mengetahui apa yang betul-betul dibutuhkan oleh masyarakat (korban bencana). Selain gereja, ada lembaga-lembaga yang khusus membantu masyarakat yang terkena bencana, seperti Palang Merah, Bulan Sabit Merah. Meskipun demikian, sebaiknya masyarakat tetap memiliki kemampuan untuk menolong dan membantu mereka yang terkena dan menjadi korban bencana.
Ada baiknya dalam membantu orang yang tertimpa bencana, gereja lebih melibatkan masyarakat di sekitar tempat kejadian, untuk mengetahui apa yang dibutuhkan.

2. Dilakukan dengan sukarela
Mengambil staf untuk pekerjaan relief bukan suatu hal yang jelek, tapi ingatlah bahwa mereka harus punya kerinduan untuk melakukan pekerjaannya dengan sukarela. Jika bekerja di bidang relief hanya berfokus pada uang, kerja kita tidak akan maksimal. Dalam hal ini, yang terpenting adalah semangat sukarela semata meninggalkan pekerjaan tetapi juga meluangkan waktu untuk membantu irang lain. Dalam hal ini, yang terpenting adalah semangat sukarela untuk membantu, bukan semata meninggalkan pekerjaan dan pergi jauh, tetapi juga meluangkan waktu untuk membantu orang lain di tempatnya sendiri, atau membantu orang lain di dalam pekerjaannya sehari-hari.
Relief dan Community Development (CD), keduanya bertujuan mengurangi kerapuhan dalam masyarakat. Relief bersifat jangka pendek atau sementara, jika orang yang dibantu sudah pulih keadaannya dan dapat melakukan kegiatan sehari-hari, bantuan tidak diberikan lagi. Sedangkan CD sifatnya jangka panjang.

Siapa Yang Bisa Melakukan Relief?
Alkisah, di Liberia Afrika, telah terjadi perang saudara yang berkepanjangan. Hampir 15 tahun dan menewaskan hampir 20% dari populasinya. Satu hari Jacob pergi ke sana untuk melakukan program relief. Pertama kali tiba di bandara, ada banyak iklan dari gereja dalam bentuk poster-poster, seperti : “Gereja yang Punya Perhatian”, “Gereja Pemulihan”, dst. Dia heran jika ada banyak gereja di sana, kenapa masih ada perang saudara selama 15 tahun? Ketika menanyakan hal ini, salah satu pendeta di sana hanya menjawab bahwa dalam Alkitab pun dikatakan, kita juga hidup dalam masa yang sulit.
Dalam Perjanjian Lama, Allah menginginkan kita melihat bahwa Dia memakai orang-orang yang berada di tengah-tengah bangsa besar (yaitu Israel, dalam posisi strategis) sebagai contoh bagi kita bagaimana kita harus hidup di tengah orang lain, terutama yang sedang menderita. Yakni : menyampaikan kabar baik pada orang miskin, memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, memberitakan penglihatan pada orang-orang buta, membebaskan yang tertindas dan memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang (luk 4:16-19).
Seekor anak gajah yang dirantai kakinya sejak bayi menjadi terbiasa dengan ikatan rantai yang membelenggunya, karena ia tidak lagi menganggap ikatan itu sebagai sesuatu yang membelenggu tetapi ia anggap rantai itu sebagai alat kepatuhan pada sang tuan. Ilustrasi ini menunjukkan bagaimana kita merasa bebas meskipun kita diikat pada kebiasaan yang sudah lama dilakukan? Belenggu ikatan adalah kelemahan-kelemahan yang kadang kita anggap sebagai beban, seperti merasa terlalu lemah, terlalu kecil, dsb. Tidak seharusnya kita memandang beban itu tidak ada, tapi kita harus bersikap bahwa Allah membimbing kita mengatasi kelemahan itu, bahkan memakai kelemaham itu sebagai sesuatu yang memicu kita untuk memiliki hati yang rindu melayani.
Seyogyanya, kita bekerja dan berjalan dalam keyakinan dan tidak menyalahkan Allah karena kita ditempatkan di suatu tempat yang kita lihat ‘tidak berharga’. Ketika kita melayani dalam bidang bencana, kita juga melayani dengan peraturan dan etika. Inilah yang harus kita perhatikan dalam ‘menjangkau’ orang yang kita layani. Kadang kita masih berpikir dengan kacamata sendiri bahwa orang miskin tidak mungkin bisa memberi atau membantu, tetapi Allah menyatakan dalam Alkitab bahwa seorang janda miskin rela memberikan semua hartanya tanpa menonjolkan dirinya (Luk 21:1-4) dibandingkan dengan orang kaya yang menunjukkan dirinya saat mempersembahkan banyak uang. Janda miskin itu tidak dilarang oleh Tuhan Yesus memberikan dua peser uangnya dengan mengakatan : “Sudah kamu tidak usah memberikan uangmu, karena kamu miskin. Kasihan kamu.” Kesalahan kita adalah sering melihat orang miskin tidak mampu memberi. Kesalahan seperti ini menjadi belenggu yang merantai kita.
Relief bisa dilakukan bukan hanya oleh orang-orang yang dianggap mampu tetapi juga setiap orang, jika kita mampu melepaskan belenggu yang melihat orang miskin hanya untuk diberi, bukan memberi. Dalam relief, kita perlu melihat bahwa setiap orang mempunyai kemampuan untuk menolong satu sama lain, sekecil apapun itu. Memberdayakan orang miskin untuk mempu memberi adalah juga usaha mengembalikan mereka pada harkat yang sesungguhnya sebagai manusia yang sama dengan orang kaya manapun.


Penting Untuk Pekerja Relief
Hal-hal yang perlu dicermati oleh para pekerja Relief antara lain :
1. Pendeskripsian bencana tiap wilayah
Kalau kita ingin menjadi bagian dari pelayanan Relief, deskripsikanlah bencana apa saja yang sering terjadi di daerah Anda masing-masing atau di negara Anda.
2. Pengorganisasian pekerjaan Relief
Adakan koordinator di setiap wilayah (distrik) agar dapat melaporkan mengenai :
· Bencana yang terjadi
· Lembaga lain yang sudah terlibat dalam penanganan bencana di daerah itu, misalnya : Palang Merah, dsb, dan apa yang mereka lakukan dalam merespon bencana itu.
3. Kerjasama dengan lembaga lain
Perlu ada kerjasama dengan berbagai lembaga dalam pendistribusian bantuan, sehingga bantuan yang sama tidak bertumpuk atau tumpang tindih. Misalnya : Palang Merah membantu penyediaan obat; Disaster & Relief Response membantu bahan pangan; Bala Keselamatan menyediakan pakaian, dsb.
4. Miliki spesifikasi pekerjaan relief
Alangkah baik bila setelah menjalin kerjasama dengan lembaga lain, gereja/lembaga relief gereja memiliki spesifikasi pekerjaannya. Ini penting untuk menghindari tumpang tindih jenis bantuan. Kalau semua lembaga memberikan bantuan yang sama, akan mungkin bantuan yang diberikan terlalu berlebihan dan tidak terpakai. Pekerjaan relief kita menjadi sia-sia. Katakanlah misalnya gereja memiliki spesifikasi dalam rehabilitasi tempat tinggal, atau pendampingan pasca-bencana, atau evakuasi.
5. Need Assesment
Pergilah dari rumah ke rumah untuk melihat keadaan dan situasi orang yang terkena bencana, dari situ dapat ditentukan bantuan apa yang dapat diberikan, berapa banyak dan siapa saja akan dibantu. Perhatikan juga mana yang perlu dibantu jangka panjang dan pendek. Lihat apakah ada asuransi. Susunlah informasi ini menjadi database.
6. Distribusi bantuan dan pembangunan kembali
Lebih baik libatkan masyarakat dan gereja di sekitar tempat kejadian untuk membangun kembali daerah itu. Jangan beranggapan bahwa jemaat tidak bisa terlibat dalam program relief, tetapi libatkan/tantang mereka dalam membantu kegiatan semacam ini.


Seputar Relawan/Volunteer
Sukarelawan adalah orang yang mau melibatkan diri untuk melayani orang lain yang ada dalam kesusahan. Biasanya didapat melalui informasi dari mulut ke mulut. Untuk meyiapkan sukarelawan, perlu diperhatikan hal-hal berikut :
1. Harus ada deskripsi tugas yang jelas bagi tiap relawan.
2. Harus ada pelatihan khsusus.
3. Harus ada waktu khusus.

Dalam menjalankan tugasnya, para relawan ini mungkin saja menjumpai banyak masalah dan mungkin dia akan menderita. Karena itu, tetap harus ada perhatian melalui doa dan buku/buklet untuk menguatkan mereka.

Penulisan Proposal
Ada beberapa saran yang baik untuk diperhatikan ketika kita akan menulis sebuah proposal bencana.
1. Buatlah lebih dulu konsep yang berisi tentang :
· Apa, dimana, bagaimana
· Apa yang ingin Anda lakukan
· Mengapa Anda ingin mekakukannya dan kapan itu akan dilakukan?
· Bagaimana Anda melakukannya?
· Mengapa Anda ingin membantu orang/lembaga lain?
· Berapa biayanya?
2. Buatlah secara singkat, padat dan jelas.

Dukung dengan informasi untuk meyakinkan lembaga yang akan membantu dengan menyebutkan :
1. Implementing partner capacity.
Meliputi sejarah, pengalaman, karyawan (relawan terlatih). Nyatakan apa adanya, jangan berlebihan.
2. Situational Analysis & assessment (analisi situasi).
Meliputi : dimana proyek dilakukan, mengapa di sana, keadaan makanan, gambaran masalah.
3. Identifikasi penerima bantuan.
Meliputi berapa jumlah laki-laki, wanita, anak-anak.
4. Hasil yang diinginkan
Meliputi Maksud, tujuan yang bisa diukur misalnya : meningkatkan gizi anak balita hingga berat mereka meningkat 20%. dan Evaluasi.
5. Aktivitas
Berikan rincian jelas misalnya : memberikan beras X kg untuk Y orang. Umumnya diberikan seperti ini :
1 keluarga dengan 5 orang diberi :
· 60 kg beras/jagung/dsb
· 70 kg kacang-kacangan
· 7,5 kg lemak/minyak.
Perincian ini sesuai dengan rasio World Health Organization (WHO) yaitu bantuan yang diberikan sebesar setengah atau tiga perempat dari semua kebutuhan. Kalau korban tinggal di pengungsian, mereka diberi semua kebutuhan (100%).

Dari keseluruhan pembuatan proposal, penting mencantumkan jadwal tiap program. Jika terjadi perubahan rencana, sebaiknya konsultasikan dulu dengan pemberi dana dan berbagai pihak terkait dengan alasan yang masuk akal. Ini penting untuk mencegah penyelewengan dana dan memupuk rasa tanggung jawab.(*)

Jumat, 06 Maret 2009

Edisi VIII/Oktober/2004

Dari Dapur Redaksi
Kehilangan Jejak

Halo para pembaca yang budiman, bagiamana kabar Anda? Kita berjumpa kembali dalam buletin Holistik edisi yang ke-8. Rasanya cepat sekali waktu berlalu, beberapa bulan lalu, buletin Holistik edisi ke-7 baru saja didistribusikan, kini sudah ada edisi 8 di tangan Anda. Kemunculan Holistik memang sempat mengalami keterlambatan pada edisi-edisi sebelumnya. Itulah alasan mengapa edisi selanjutnya ikut-ikutan molor. Atas keterlambatan ini, kami mohon maaf.
Selain mengirim buletin Holistik, kami baru saja selesai dengan proses pendistribusian buku bahan Pemahaman Alkitab (PA) kepada gereja-gereja anggota P3H di 6 sinode. Jumlah buku yang dikemas dalam dus-dus itu adalah 3000 buah dan tertumpuk di gudang kantor P3H selama beberapa bulan. Mengingat proses penggarapannya sudah memakan waktu lama, maka kami bertekad pengirimannya tidak dapat ditunda-tunda lagi. Maka setelah mendata alamat para pendeta (pemimpin PA) di gereja-gereja anggota P3H dan menyiapkan perlengkapan teknis lainnya, kami segera mengemasnya satu per satu dan mengirimkannya. Tentu saja proses ini pun lumayan memakan waktu, kira-kira 2 bulan penuh! Sebanyak kurang lebih 90 dus masing-masing berisi 20 buku selesai dipaketkan ke 4 sinode di luar Jawa, sedangkan selebihnya hampir 400 buku dikirimkan per orangan di wilayah sinode di Jawa.
Meskipun menguras keringat, namun selesainya pendistribusian ini melegakan hati, setidaknya hal ini kami rasakan setelah mendapat respon dari beberapa gereja yang menyatakan

keinginannya untuk dikirimi lagi. Waduh, tentu permintaan seperti ini harus kami bicarakan ulang, karena untuk saat ini jumlah yang dicetak sangat terbatas dan secara teknis untuk jumlah besar kami harus mengatur ulang urusan cetak dan distribusinya. Namun demikian, kami tetap menantikan komentar terhadap buku Bahan PA ini setelah diujicobakan kepada jemaat (kelompok PA) yang dipimpin. Ini akan menjadi masukan yang berharga bila nantinya dianggap perlu untuk menerbitkan seri berikutnya.
Selain cerita melegakan tersebut, ada juga kisah sedih di balik proses pengiriman bahan PA. Ternyata ada beberapa paket yang kembali ke kantor P3H. Masing-masing dengan keterangan yang berbeda-beda, umumnya mereka sudah berpindah alamat. Sayang sekali, kami kehilangan jejak alias kesulitan melacaknya karena per orangan bukan gereja. Oleh karenanya kami mohon kerjasama para pembaca buletin Holistik yang budiman, untuk memberitahukan kepada redaktur mengenai perubahan alamat Anda supaya Holistik atau kiriman dari P3H tetap sampai di tangan Anda.
Oya, P3H tahun depan akan berusia 4 tahun! Lalu? Meskipun P3H tidak pernah rewel minta dirayakan ultahnya seperti seorang anak kecil tapi alangkah bahagianya P3H bila ultah ke-4 nanti dirayakan. Tidak usah pakai pesta, P3H hanya ingin kado sederhana. Yakni sebuah karya tulisan dari pembaca tentang Pelayanan Holistik. Dilombakan lho, selengkapnya baca saja dalam buletin ini.
Akhirnya, kami mengucapkan selamat membaca Holistik edisi 8!

------------------------------------------------------

AKTIVITAS KITA

1. Lokakarya Kemitraan GKS – Protestanse Kerk in Nederland
Pada tanggal 12-14 Juli 2004, telah berlangsung acara lokakarya kemitraan antara Gereja Kristen Sumba (GKS) dan Global Ministry/Kerkinactie Protestanse Kerk In Nederland (GM/PKN). Acara selama tiga hari itu digelar di kantor sinode GKS, Sumba Timur dan diikuti oleh lebih dari 30 peserta yang secara pribadi maupun lembaga ikut terlibat secara langsung dalam pelayanan GKS selama ini. Pertemuan ini diadakan dilatarbelakangi oleh kemunculan perubahan di kedua pihak. Perkembangan di Indonesia akhir-akhir ini membuat berbagai perubahan baik pada tingkat nasional maupun lokal. Perubahan ini juga terjadi di Sumba. Selain itu dalam kehidupan bergereja juga terjadi berbagai perubahan, sehingga perlu direspons dengan baik agar kehidupan bergereja dapat berjalan dengan baik. Sedangkan penyatuan GKN dengan gereja lainnya yang menghasilkan Protestantse Kerk adalah suatu perubahan yang besar dan mendasar. Dengan penyatuan ini pada dasarnya GKN sudah tidak ada lagi. Ini berarti mitra utama GKS adalah sebuah lembaga yang “baru” dan berbeda dari GKN. Untuk itulah perlu pemikiran ulang mengenai bentuk kemitraan seperti apa yang sesuai agar misi kedua gereja (GKS dan PKN) dapat dilaksanakan dengan baik.

Sebagai narasumber dari GKS dihadirkan Pdt. David Umbu Dingu (Sekum GKS), Pdt. A.A Djewanggoe (PGI) dan dari Belanda hadir Klaas Aikes (Program Officer Desk Asia Pasific Kerkinakctie), Pdt. Luinstra dan Ibu (keduanya pernah melayani jemaat GKS pada tahun 1981-1998). Para narasumber mengulas beberapa hal seperti kondisi terkini di antara kedua pihak serta pengalaman dan pengamatan tentang hubungan kerjasama keduanya. Pertemuan menghasilkan konsensus baru tentang kerjasama antara GKS dan PKN/GM khususnya dalam 3 hal penting yakni visi dan misi kemitraan, pemberdayaan ekonomi dan keuangan, pertumbuhan gereja dalam pembentukan civil society di tengah masyarakat plural. Dengan hasil tersebut, diharapkan tertata kemitraan yang responsif terhadap perubahan dan tantangan yang terjadi.

2. Pelatihan Capacity Building Untuk 12 Sinode Sulutteng
Dalam rangka mengembangan kapasitas dan profesionalisme pelayanan gereja, P3H/CRWRC diminta bantuannya oleh Kerkinactie di Belanda untuk memfasilitasi capacity building bagi 12 sinode di Sulawesi Utara dan Tengah (Sulutteng). Rencananya pelatihan ini akan diadakan di enam tempat di wilayah Sulutteng pada bulan November dan Desember 2004. Untuk mempersiapkan pelatihan tersebut, P3H/CRWRC bekerjasama dengan Sinode Am Gereja-gereja (SAG) Sulutteng dan Kerkinactie mengadakan “Training of Trainers”(ToT) bagi Pengurus Harian (PH) SAG di hotel Dhyana Pura, Bali pada tanggal 11-15 Agustus 2004.
Pelatihan ini diikuti oleh 7 orang dari SAG yang nantinya akan menjadi fasilitator dalam pelatihan bagi 12 sinode.
Ikut serta pula dalam ToT ini Ibu Lin Tjeng (Kerkinactie), Simon dan Lies Langbroek (Volunteer/Belanda). Materi pelatihan yang diberikan meliputi 3 hal yakni pembangunan kapasitas (capacity building), sistem keuangan berbasis Quickbooks serta pengenalan terhadap Internet dan e-mail. Bertindak sebagai failitator dari P3H/CRWRC adalah Iskandar Saher, Monika Rum Mahanani dan Dewi Yuliyanti. Selain melatihkan ketiga materi utama di atas, ToT juga dimanfaatkan sebagai ajang revisi, sehingga masukan-masukan terhadap materi akan memberi kontribusi pada perbaikannya, di samping memperhatikan faktor kondisi riil yang ada di sana. Dengan demikian, materi pelatihan nantinya betul-betul berangkat dari kebutuhan dan sesuai dengan
keadaan yang sebenarnya.. Meskipun jadwal padat, namun acara berlangsung lancar dan penuh keakraban.

3. Rencana Pelatihan Penanggulangan Bencana
Dalam pertemuan Kespel P3H Mei lalu, salah satu pokok yang ikut disepakati adalah pentingnya meningkatkan kapasitas gereja khususnya dalam merespons bencana. Menindaklanjuti kesepakatan bersama tersebut P3H berencana mengadakan sebuah pelatihan penanggulangan bencana. Pelatihan dianggap penting sebagai sarana memperdalam kemampuan dan keterampilan dalam penanggulangan bencana. P3H akan bekerjasama dengan CRWRC untuk mendatangkan narasumber Jacob Kramer, dari Canadian Food Grain Bank (CFGB), sebuah bank pangan yang berkantor pusat di Kanada. CFGB mengkhususkan pelayanannya di bidang pengadaan pangan (Food Security). Pelatihan ini direncanakan akan diadakan awal November 2004 dan akan diikuti oleh utusan dari 6 sinode anggota P3H masing-masing 2 orang. Mohon dukungan doa agar rencana ini dapat terwujud.


4. Pertemuan Bersama Deputat Kespel Klasis Sinode GKJ-P3H
Menindaklanjuti pertemuan Kespel P3H pada bulan Mei 2004, Departemen Kesaksian dan Pelayanan Sinode Gereja Kristen Jawa (GKJ) menggelar sebuah pertemuan serupa yang melibatkan kespel klasis-klasis di sinode GKJ. Acara tersebut berlangsung pada 24-25 Agustus 2004 bertempat di Sinode GKJ Salatiga. Selain dimanfaatkan sebagai media sosialiasi tentang pelayanan yang holistik dan P3H, acara yang diikuti oleh 21 klasis GKJ di Jawa ini juga menghasilkan gagasan-gagasan bagaimana melakukan pelayanan bersama dalam satu jaringan antar depkespel klasis. Salah satu harapan yang muncul ialah bahwa P3H mampu membantu klasis dalam rangka mengembangkan kapasitas gereja.Utusan klasis juga diberi kesempatan untuk mensharekan pengalaman pelayanan selama ini. Diharapkan gagasan dan harapan yang lahir dari pertemuan tersebut dapat diteruskan menjadi rencana aksi yang sebagai wujud kolaborasi antar klasis-klasis—sinode melalui P3H.


5.“Rumah Baru Kita Indonesia” Dari Desk PKB
Setelah agak lama tak terdengar kabarnya, baru-baru ini Desk Pembangunan Kehidupan Bergereja (Desk PKB) selesai mencetak buku berjudul “Rumah Baru Kita, Indonesia”. Buku ini merupakan seri I dari serangkaian seri Pendidikan Kewarganegaraan yang disiapkan Desk PKB bagi para pemimpin dan fungsionaris gereja-gereja khususnya anggota P3H –sebagai kelompok yang ikut serta dalam awal kelahiran desk yang diluncurkan Desember 2003 lalu. Buku ini berisi penjelasan mengenai lembaga-lembaga negara setelah beberapa kali terjadi amandemen terhadap UUD’45. Ini disajikan untuk mengetahui perubahan-perubahan di dalam lembaga-lembaga tersebut. Diharapkan buku yang sudah dikirimkan kepada 6 sinode anggota P3H ini dapat menambah wawasan para pemimpin/fungsionaris gereja maupun lembaga keagamaan umumnya, baik dalam rangka menjalankan peran politiknya maupun dalam rangka pendidikan kewarganegaraan bagi warga dan masyarakat umumnya.

6. Pelatihan Renstra Di GKJ Cepu
Pada tanggal 8 September, Gereja Kristen Jawa (GKJ) Cepu mengadakan acara pelatihan Perencanaan Strategis (Renstra). P3H bertindak selaku fasilitator. Pelatihan ini diikuti oleh sekitar 25 orang, terdiri dari anggota komisi dan majelis GKJ Cepu. Materi yang disampaikan meliputi Visi dan Misi; Analisis SWOT; Penentuan Prioritas dan Strategi. Biasanya materi renstra secara lengkap membutuhkan waktu 2-3 hari untuk dilatihkan, namun karena waktu yang tersedia hanya 1 hari, maka 3 materi itulah yang dapat disampaikan secara ringkas. Ini adalah kesempatan kedua bagi P3H setelah sebelumnya pernah memfasilitasi seminar dalam rangka ulang tahun GKJ Cepu ke-50. Diharapkan melalui pelatihan ini, para anggota majelis dan jemaat khususnya dapat mengetahui dan ikut serta dalam proses pembuatan visi/misi dan strategi yang biasanya hanya dilakukan pada tingkat elite gereja. Setelah mengetahui arah pelayanan gereja, maka setiap program yang dilahirkan dan dilaksanakan benar-benar muncul dari perencanaan yang berasal dari jemaat untuk mewujudkan visi dan misi yang sudah dibuat secara bersama-sama.

-----------------------------------------------

ARTIKEL LEPAS

Gereja & Restoran



oleh : Iskandar Saher




Pada bagian pertama dari tulisan ini, penulis memaparkan adanya titik kesamaan antara Gereja dan Restoran. Meskipun keduanya tidak berhubungan secara langsung namun sama-sama menawarkan sesuatu untuk “dibeli” atau dinikmati. Agar banyak diminati, keduanya perlu memiliki kapasitas yang mendukung. Keduanya juga perlu membidik selera pasarnya. Tulisan bagian kedua kali ini akan mengulas bagaimana gereja -layaknya sebuah restoran jeli terhadap apa yang ditawarkannya.




Gereja sebagai Restoran
Kelemahan utama gereja-gereja kita adalah tidak tahu persis apa yang ditawarkan. Kalau kita katakan kita menawarkan keselamatan, keselamatan yang seperti apa? Ketidaktahuan terhadap apa yang kita tawarkan ini membuat kita juga sulit menentukan kapasitas apa yang perlu dibangun. Seandainya gereja adalah sebuah warung makan, mungkin yang ditawarkan mie rebus yang disajikan seadanya di tempat seadanya dan dengan pelayan yang sekedarnya. Pembeli tentu saja bosan dan berpindah ke warung lain yang menunya lebih bervariasi, pelayanan baik, suasana ruangan nyaman.
Konsekuensi berikutnya dari ketidaktahuan ini adalah perencanaan gereja yang tidak terarah. Katakanlah kita ingin merencanakan studi lanjut (S2 & S3) untuk para pendeta. Pertanyaan pertama adalah dengan tawaran pelayanan yang kita tawarkan, perlu tidak pendeta bergelar S2 dan S3; atau cukup dengan pendidikan pendek non gelar untuk berkhotbah atau mengajar Sekolah Minggu atau mengajar katekisasi sebagai tambahan terhadap pendidikan S1nya.



Pertanyaan berikutnya, kalau perlu S2 dan S3 bidang apa dan berapa banyak untuk setiap bidang. Kalau dia sudah selesai dengan S2 dan S3 akan ditempatkan di mana? Pertanyaan-pertanyaan ini penting agar kita betul-betul membangun kapasitas lembaga sesuai dengan apa yang kita tawarkan. Jangan sampai kita membuka restoran, tapi karyawan kita disekolahkan untuk mendapat S2 dalam bidang teknik mesin, padahal di restoran tidak ada mesin dan tidak menawarkan service perbaikan mobil.
Dengan demikian pembangunan kapasitas lembaga ini diperlukan agar lembaga dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Jika lembaga mempunyai kapasitas yang baik maka pelayanan yang didapatkan oleh anggota jemaat dan masyarakat sesuai dengan apa yang kita tawarkan. Pada pihak lain, dengan kapasitas yang baik dana yang masuk juga diharapkan akan baik

Kapasitas Gereja dan Sumber Dana
Sumber dana masih tetap menjadi pergumulan banyak gereja, khususnya gereja-gereja kecil. Oleh sebab itu walaupun pada umumnya gereja-gereja di Indonesia secara struktural sudah mandiri dari lembaga Zendingnya, tapi masih ada yang tergantung secara teologis (ini tidak akan dibahas) dan secara finansial. Sementara itu, sumber dana dari lembaga zending atau gereja mitra di luar negeri semakin kecil, karena uang yang masuk ke zending dan gereja mitra di luar negeri semakin kecil. Sementara dari dalam jemaat dana yang masuk juga tidak cukup.
Tidak ada data yang cukup representatif tentang berapa rata-rata persembahan anggota jemaat dewasa setiap minggunya. Diduga rata-rata dana ini kurang dari Rp. 1.000 perminggu perjemaat dewasa. Bandingkanlah ini dengan berapa bungkus rokok yang dikonsumsi anggota jemaat dewasa (khususnya laki-laki) perminggu. Katakanlah seorang laki-laki (karena umumnya laki-laki yang merokok, minimal di depan umum) merokok setengah bungkus perhari. Ini berarti seminggu mengkonsumsi 3½ bungkus rokok. Seandainya sebungkus rokok berharga Rp. 5.000,- itu berarti Rp. 17.500 perminggu dibelanjakan hanya untuk rokok. Hitung-hitungan ini sangat kasar dan bisa salah. Ini hanya untuk menggambarkan bahwa sebetulnya jemaat kita tidak miskin, sehingga untuk memberikan Rp. 1.000,- per minggu perjemaat dewasa tidaklah menjadi keberatan. Ini berarti potensi keuangan di jemaat cukup besar, tinggal bagaimana uang itu dipersembahkan oleh jemaat.
Ada cukup banyak gereja yang gagal memobilisasi persembahan jemaat, sehingga kekurangan dana dalam pelaksanaan kegiatan. Tudingan terhadap kegagalan mobilisasi persembahan ini pada umumnya pada tingkat kesadaran memberi jemaat yang rendah. Tudingan ini benar, tapi kalau begitu ini juga berarti kegagalan institusi gereja dalam mendidik anggota jemaatnya dalam kesadaran mempersembahkan. Masalah ini kalau diperdebatkan akan panjang. Hal lain yang ingin saya katakan di sini adalah ada cukup banyak dana yang gagal dimobilisasi oleh gereja, dan ada cukup banyak anggota jemaat yang kesadaran memberinya tinggi, bahkan sampai pada tingkat sadar memberi secara kritis, persembahan yang besar. Kelompok kedua ini biasanya berpendidikan baik dan secara ekonomi di atas rata-rata. Saya menamakan kelompok ini sebagai kelompok “sadar memberi.”




Kelompok “sadar memberi” ini tidak lagi melihat memasukkan uang ke kantong/kotak persembahan sebagai mempersembahkan untuk Tuhan titik. Mereka melihat ini mempersembahkan untuk Tuhan, tapi disalurkan melalui gereja. Mereka ini mengkritisi bagaimana uang untuk Tuhan itu dikelola dan dimanfaatkan oleh gereja. Kelompok ini tidak akan memberikan persembahan kepada gereja jika uang persembahannya dipakai untuk hal-hal yang tidak sesuai, apalagi dikorupsi (ada ya?). Mereka mengatakan “kalau kita masih memberi persembahan untuk sesuatu yang kita tahu akan dipergunakan dengan tidak benar sama saja kita berbuat dosa.” Dari pengalaman sehari-hari juga kita bisa mengamati, kalau satu jemaat ingin membangun gedung gereja, biasanya persembahan yang masuk jauh lebih besar (walaupun kadang masih tetap kurang) dari persembahan rutin. Persembahan untuk pembangunan gereja ini masuk dengan cukup besar karena jemaat menganggap bahwa penggunaan uangnya jelas dan gedungnya perlu. Sedangkan untuk persembahan sehari-hari kadang-kadang penggunaannya tidak jelas atau sering digunakan untuk sesuatu yang tidak benar-benar perlu.
Jika kita melihat hubungan kapasitas gereja dengan sumber dana dari luar (baik luar negeri maupun dalam negeri) isue utamanya adalah kepercayaan kepada lembaga gereja. Kepercayaan ini menyangkut dua hal, yaitu kepercayaan bahwa dana akan dimanfaatkan dengan baik (tidak diselewengkan) dan kepercayaan bahwa lembaga gereja mempunyai kapasitas untuk melakukan kegiatan itu.
Apakah dana akan dimanfaatkan dengan baik atau tidak, agak sulit dibuat generalisasinya. Ada gereja yang punya laporan penggunaan keuangan dengan sangat baik dan dapat dipercaya, tetapi ada juga yang administrasi dan pengelolaan keuangannya kurang baik. Ada gereja yang dananya dimanfaatkan dengan baik, tetapi tidak dilaporkan dengan baik karena administrasi keuangannya kurang baik. Sebaliknya ada yang laporannya dan bukti pengeluaran dibuat dengan baik, tetapi itu hanya laporan di atas kertas, yang kalau dicek di lapangan tidak ada bekas kegiatannya. Hanya gereja yang bersangkutan, dan Tuhan, yang tahu bagaimana dana gereja dimanfaatkan.
Mengenai kepercayaan sumber dana dari luar (mitra atau lembaga donor) kelihatannya agak kurang baik. Indikator yang terlihat adalah kesulitan gereja mendapatkan dana dari luar untuk kegiatan yang akan dilakukannya, sementara lembaga lain (seperti LSM) bisa mendapatkan dana yang besar untuk melakukan kegiatan yang sama dengan yang akan dilakukan oleh gereja. Ini adalah salah satu indikator penting bahwa kepercayaan lembaga donor pada gereja kurang. Ambillah contoh untuk kegiatan penanggulangan bencana. Dana untuk ini cukup banyak tersedia, tetapi pada saat gereja ingin mencari dana untuk kegiatan ini sulit mendapatkannya, kalaupun dapat hanya kecil. Salah satu sebab adalah bahwa gereja kurang dipercayai bahwa dia mampu melakukan kegiatan seperti ini.
Kekurangmampuan ini bisa kurang mampu menyiapkan proposal dan laporan yang baik, atau tidak tahu akses ke sumber dana. Seandainya gereja dinilai mampu oleh masyarakat untuk melakukan kegiatan seperti ini, maka dana akan mengalir dengan deras.




Salah satu contoh adalah Bala Keselamatan di Amerika Utara. Lembaga ini (di Indonesia dikenal sebagai gereja) sangat dipercayai oleh lembaga dan masyarakat sebagai lembaga terpercaya menyalurkan bantuan kemanusiaan di saat bencana. Karena itu kadang-kadang mereka tidak perlu menulis proposal dan mencari dana, karena bantuan akan datang dengan sendirinya begitu mereka ingin melakukan aksi bantuan bencana.
Membangun kepercayaan dari luar (dan juga dari jemaat) terhadap gereja juga penting dalam rangka mendapatkan dana. Kepercayaan ini berasal dari adanya jaminan bahwa dana akan dimanfaatkan dengan benar dan gereja mempunyai kapasitas yang baik untuk melakukan kegiatan yang direncanakan. Lembaga yang seperti ini sering ditawari dana oleh lembaga donor.


Penutup
Pembangunan kapasitas gereja saat ini menjadi suatu yang mau tak mau harus dipikirkan dan dilakukan dengan serius. Gereja tidak lagi dapat melayani dunia ini seadanya saja. Seandainya gereja adalah restoran, maka kini bukan saatnya lagi kita hanya menyajikan mie rebus dengan pelayanan yang seadanya, managemen keuangan yang kacau (bercampur dengan uang keluarga), dan buka kapan saja kita mau. Restoran seperti ini mungkin masih dikunjungi, karena namanya sudah dikenal, tapi sebetulnya kita mesti malu karena sudah tidak layak lagi dikatakan sebagai restoran. Mungkin kita di negeri ini masih belum percaya bahwa gereja dapat hilang; tapi di negara lain ini sudah terjadi, sehingga gedung gereja yang megah dan indah hanya menjadi objek wisata atau bahkan dijual. Gereja bukan restoran, tapi bukan tidak mungkin tutup.(selesai)

Kamis, 05 Maret 2009

Aktivitas Kita

Photobucket Album

Edisi VII/April/2004

DARI DAPUR REDAKSI

P3H=Kita?

Pernahkah saudara berkenalan dengan seseorang sepintas lalu? Hanya mengenal nama, mungkin pekerjaannya, atau alamatnya? Suatu saat ketika kita bertemu lagi dengan orang itu, kita tiba-tiba kesulitan mengingatnya kembali, bahkan namanya pun tak terlintas sama sekali, hanya perasaan mengatakan kita pernah bertemu dengan orang itu.
Kira-kira begitulah proses sebuah perkenalan yang hanya di permukaan saja, ada dua kemungkinan, kita mudah lupa-lupa ingat namanya atau nama itu sama sekali tidak tersimpan dalam rekaman ingatan kita. Mungkin ini karena perkenalan kita hanya sebatas siapa dan apa, bertukar kartu nama tetapi tidak menindaklanlanjuti dengan silaturahmi atau komunikasi berikutnya.
Nah, itulah yang terjadi dengan P3H. Sekalipun sudah berusia hampir 4 tahun, rupa-rupanya forum bersama ini tidak begitu dikenal dengan sangat baik, bahkan oleh para anggotanya sekalipun. Padahal, usaha untuk mengenalkan diri dan bersosialisasi sudah getol dilakukan, khususnya kepada 6 sinode anggota P3H sendiri yakni Sinode Gereja Kristen Sumba (GKS), Gereja Kristen Indonesia Sinwil Jateng (GKI Sinwil Jateng), Gereja Kristen Jawa (GKJ), Gereja Toraja (GT), Gereja Toraja Mamasa (GTM) dan Gereja Kristen Sumatera Bagian Selatan (GKSBS). Dari perkenalan-perkenalan yang tidak dalam itu, justru sering terjadi kerancuan pengertian, bahkan kesimpangsiuran. Misalnya, mendadak P3H dianggap sebagai sebuah lembaga donor bagi ke-6 sinode atau P3H adalah lembaga yang melayani 6 sinode. Kadang-kadang muncul gambaran bahwa P3H berdiri terpisah dari ke-6 sinode tersebut. Padahal, yang sebenarnya terjadi adalah P3H = 6 sinode = P3H.
Pemahaman yang masih simpang siur ini seringkali menyulitkan kita sebagai sesama anggota forum untuk melakukan aktivitas bersama dalam rangka mewujudkan misi kita yakni memperlengkapi dan mendorong gereja melakukan pelayanan holistik. Akibat selanjutnya dari proses saling berkenalan kita yang kurang intens tadi, membuat rasa memiliki terhadap forum bersama ini juga kurang. Kalau sudah begini, bagaimana kita akan mengefektifkan pelayanan bersama agar dampaknya bisa dirasakan oleh masyarakat?
Oleh karena itu, P3H berinisiatif untuk kembali berkumpul bersama, memperdalam proses pengenalan yang lebih baik terhadap P3H dan fungsinya sebagai sebuah forum bersama, saling bertukar pikiran dan pengalaman di antara anggota dan menggagas kerjasama seperti apa yang efektif dilakukan bersama dan melalui P3H. Pertemuan ini menjadi salah satu agenda yang dapat dibaca dalam rubrik Kegiatan Kita.
Selain laporan-laporan mengenai kegiatan P3H selama 4 bulan terakhir ini, redaksi kali ini juga menyuguhkan “Gereja dan Restoran”. Apalagi ini? Untuk mengetahui lebih dalam, silakan menguliknya di rubrik Artikel Lepas.
Ada juga kabar gembira yakni bahan Pemahaman Alkitab (PA) sudah siap beredar! Setelah melalui proses yang cukup panjang, akhirnya bahan PA siap diedarkan kepada pendeta-pendeta jemaat tingkat klasis di sinode-sinode anggota P3H. Redaksi mungucapkan terima kasih atas dukungan doanya selama ini sehingga bahan PA sudah selesai dicetak dan siap edar. Akhirnya, tidak perlu panjang lebar, redaksi mengucapkan selamat membaca Holistik edisi ke-7. Mudah-mudahkan melalui buletin ini, proses perkenalan kita bisa lebih dalam lagi.(*)

-------------------------------------------------------------------------------------
AKTIVITAS KITA

1. “ Lawan Globalisasi “ di FRI
Sebuah acara bertajuk Forum Refleksi dan Inspirasi (FRI) digelar selama 5 hari yakni tanggal 15-19 Maret 2004 di Wisma INRI Karangpandan, Surakarta. FRI merupakan salah satu program Yayasan Bersama untuk Kesejahteraan Sosial (YBKS) sebuah yayasan yang didirikan oleh GKI Sangkrah. Ini bukan kali pertama FRI diselengarakan karena sejak tahun 1980-an, FRI sudah digelar secara berkala di beberapa tempat di Indonesia dengan tema yang berbeda-beda sesuai dengan perkembangan isu dan fenomena yang terjadi di Indonesia dan FRI tahun ini adalah yang ke-11. Tema besar yang diangkat adalah “ Gereja dan Ratap Rakyat Dalam Globalisasi” sedangkan sub temanya adalah “ Bersekutu Menghapus Ratap Rakyat Melawan Globalisasi”. Tahun ini, FRI terselenggara atas kerjasama antara YBKS dengan Yayasan Pengabdian Hukum Indonesia (YAPHI) dan Pusat Pengembangn Pelayanan Holistik (P3H). Kenyataan bahwa globalisasi sebagai sebuah keadaan yang membawa ketidakadilan khususnya antara masyarakat miskin dan penguasa/pemilik modal, memangggil gereja untuk ikut serta membangun gerakan untuk melawan persaingan sepihak ini. FRI ini diikuti oleh sekitar 60 peserta dari LSM, LPK (Lembaga Pelayanan Kristen), utusan gereja dan masyarakat akar rumput yakni dari sektor industri (buruh), pertanian dan nelayan. Sebagai pembicara hadir juga Revrisond Baswir (UGM), Indro Surono (ELSPPAT Bogor) dan Dita Indah Sari (Front Nasional Perjuangan Buruh Indonesia). FRI menghasilkan sebuah pernyataan bersama untuk melawan globalisasi berikut rencana tindak lanjutnya. Statement/komunike itu nantinya akan disampaikan kepada LSM, LPK, gereja-gereja dan kelompok masyarakat akar rumput sebagai bagian dari upaya menyuarakan hati nurani rakyat dalam melawan globalisasi yang melahirkan kapitalisme dan ratap rakyat.(*)

2. Pertemuan Dengan ODHA
Pada tanggal 20 April 2004, P3H ikut serta CRWRC memenuhi undangan dari WCTUI untuk menghadiri sebuah pertemuan dengan beberapa orang pengidap HIV positif. Mereka tergabung dalam sebuah lembaga sosial bernama “Spiritia” yang bermarkas di Jakarta. Sebanyak 4 orang dari mereka, 3 diantaranya telah mengidap virus ini. Mereka bertandang ke WCTUI Salatiga, bermaksud membagikan pengalaman kepada beberapa LSM di Salatiga yang berkecimpung di berbagai bidang kemasayarakatan, sebagai salah satu upaya meningkatkan kesadaran terhadap bahaya HIV/AIDS. Sekitar 30 orang dari 10 LSM di Salatiga ikut serta dan menyimak pengalaman menakjubkan dari 3 orang tersebut. Bagaimana tidak, hidup bersama virus HIV di dalam tubuhnya, tidak mengurangi komitmen mereka untuk terjun langsung memberikan penyuluhan, pendekatan kepada masyarakat terhadap bahaya HIV/AIDS serta mengajak masayarakt untuk tidak mengucilkan penderitanya. Daniel, ketua rombongan menerangkan secara singkat, bahwa virus ini hanya dapat menular melalui 4 media yakni darah, sperma, cairan vagina dan air susu ibu. Keempat hal itupun hanya dapat menularkan virus HIV bila secara langsung masuk dalam aliran darah seseorang. Misalnya, melalui hubungan seksual, air susu ibu penderita HIV/AIDS kepada bayinya, jarum suntik yang tidak steril dan darah akibat luka dari seorang pengidap HIV masuk pada luka orang lain. Jadi selama tidak ada pintu yang membuka masuknya 4 media tadi, kita tidak perlu was-was berhubungan dengan penderita HIV/AIDS. Pada kesempatan tersebut, mereka juga menekankan pentingnya peran lingkungan sosial bagi para penderita HIV/AIDS. Pengucilan hanya akan menyebabkan mereka menjadi frustrasi dan kehilangan arah sehingga bukan tidak mungkin justru penyakit ini ditularkan secara sengaja. Oleh akrena itu, merangkul mereka dan menjadi pendengar yang baik merupakan hal terbaik yang bisa kita lakukan pada mereka. Usaha penyadaran ini harus digiatkan oleh LSM sebagai lembaga yang paling mungkin berhubungan langsung dengan masyarakat.

3. AIDS di Papua
Masih berhubungan dengan HIV/AIDS, keprihatinan terhadap makin banyaknya penderita AIDS dan pengidap HIV positif di Indonesia, mau tidak mau menggugah kita untuk bangkit dari tidur panjang ketidakpedulian. Untuk itu, Chistian Reformed World Relief Committee (CRWRC) Indonesia, kini mulai menapaki sebuah kerjasama dengan Mennonite Central Committee (MCC) dalam menanggulangi HIV/AIDS di Papua. Sepertiga dari jumlah penderita HIV/AIDS di Indonesia ada di wilayah ini. Bayangkan betapa cepatnya virus ini menjangkit di sana Tidak mudah memberikan penyadaran akan bahaya penyakit ini kepada masyarakat luas di Papua karena latar belakang sosial dan budaya.
Sebagai langkah awal, Iskandar Saher melakukan kunjungan ke Papua selama satu minggu (15-22 April). Selain untuk need assessment, beliau juga diundang oleh STT Isaac S. Kijne Abepura untuk menghadiri seminar “ Gereja dan AIDS” yang dimotori oleh MAPHIA, sebuah organisasi mahasiswa STT yang peduli pada AIDS. Acara tersebut dihadiri oleh sekitar 40 orang yang terdiri dari pendeta dan LSM Kristen yang bergerak dalam bidang AIDS dan pemberdayaan masyarakat. Yang menjadi keprihatinan semua pihak adalah bahwa masih ada pemimpin gereja yang tidak percaya bahwa penyakit HIV/AIDS betul-betul serius. Oleh karena itu, kini saatnya Gereja melihat masalah HIV/AIDS ini sebagai masalah serius. Kunjungan Iskandar ke Papua berakhir dengan sebuah keputusan untuk membentuk Tim Inti Peduli AIDS Gereja Kristen Injili –di Tanah Papua (GKI-TP) yang diberi nama Tim Siloam. Nantinya tim ini yang perlu mendorong agar GKI-TP sebagai lembaga membuat keputusan penanggulangan bahaya AIDS sebagai prioritas. Tim yang masih dini ini, akan dibantu dalam menggerakkan kepedulian klasis, jemaat dan lembaga di bawah GKI-TP. Ini akan dilakukan melalui pertemuan yang direncanakan dengan klasis-klasis kota dan pelatihan kader yang nantinya akan menjadi penggerak penanggulangan HIV/AIDS di setiap jemaat/klasis.
4. Tantangan dan Peluang Di Ultah Emas GKJ Cepu
Dalam rangka memeriahkan ulang tahun emas GKJ Cepu, P3H mendapat kepercayaan untuk mengisi acara seminar dengan tema “ Mengantisipasi Tantangan dan Menangkap Peluang”. Iskandar Saher dari P3H bertindak sebagai narasumber. Seminar yang diselenggarakan pada 3 Mei 2004 ini, dihadiri oleh sekitar 50 orang selain beberapa wakil dari gereja di klasis Blora-Bojonegoro dan GKI, juga gereja –gereja lainnya seperti Gereja Bethani, Gereja Baptis Injil Sepenuh, Gereja Advent Hari Ketujuh, Gereja Pantekosta di Indonesia dan Gereja Katolik. GKJ Cepu di usianya yang ke-50 ini mulai diperhadapkan pada berbagai tantangan yang semakin beragam, baik internal maupun eksternal seperti masalah sumber daya baik manusia maupun alamnya. Seminar kali ini mengupas tuntas tentang bagaimana kita menghadapi tantangan tersebut tidak hanya dipandang sebagai ancaman atau sesuatu yang mendatangkan bencana saja tetapi lebih dari itu, tantangan-tantangan itu justru dapat melahirkan peluang yang menguntungkan bila kita kritis memandang dan menyikapinya. Oleh karena itu, gereja perlu menemukan kapasitas-kapasitas apa saja yang diperlukan dalam rangka menangkap tantangan sekaligus peluang itu sehingga misinya pun dapat tercapai.

5. Bahan PA Siap Didistribusikan
Setelah sekian lama ditunggu kehadirannya dan melalui masa persiapan yang panjang hingga naik cetak, akhirnya buku berisi Bahan Pemahaman Alkitab (PA) sudah selesai penggarapannya dan siap untuk didistribusikan kepada lebih dari 1400 gereja di sinode-sinode anggota P3H. Bahan PA yang tercetak sebanyak 3000 eksemplar ini akan diberikan masing-masing satu buku kepada satu pendeta jemaat di gereja-gereja anggota P3H. Buku yang terdiri dari 16 bab dan mengambil tema “Keselamatan yang utuh untuk seluruh ciptaan” ini diharapkan dapat membantu para pemimpin PA dalam proses pemahaman alkitab dengan metode pembelajaran orang dewasa dan sekaligus telah dilengkapi dengan alat peraga berupa poster-poster. Doakan supaya proses pengirimannya berjalan lancar.

6. Kespel P3H Bertemu
Pada tanggal 11-13 Mei 2004, P3H bekerjasama dengan deputat Kesaksian dan Pelayanan (Kespel) GKJ menggelar sebuah Pertemuan Kespel P3H. Pertemuan ini digagas selain dalam rangka menumbuhkan suatu perasaan memiliki terhadap P3H sebagai sebuah forum bersama milik 6 sinode - yakni sinode Gereja Kristen Jawa, Gereja Kristen Sumba, Gereja Kristen Indonesia Sinwil Jateng, Gereja Sumatera Bagian Selatan, Gereja Toraja dan Gereja Toraja Mamasa- sekaligus sebagai media untuk berpikir bersama bagaimana mewujudkan kerjasama yang efektif sehingga pelayanan P3H dapat dirasakan oleh jemaat maupun masyarakat. Pertemuan yang sedianya berlangsung tiga hari itu, harus berakhir pada hari kedua karena di hari ketiga sebagian peserta diikutsertakan dalam sebuah seminar sehari bertema “Indonesia Pasca Pemilu 2004” yang digelar oleh Yayasan Bimbingan Kesejahteraan Sosial (YBKS) di Solo. Meski demikian, dari awal hingga akhir pertemuan, sekitar 30 peserta sangat antusias mengikuti sesi demi sesi yang mengupas tuntas tentang P3H. Peserta yang umumnya diwakili oleh anggota kespel di sinode dan klasis itu, juga berdiskusi kelompok dan membuat rekomendasi atau usulan demi perkembangan P3H ke depan termasuk membicarakan kemungkinan kerjasama antarsinode P3H yang didasarkan kepada spesialisasi masing-masing sinode.

-------------------------------------------------------------------------
ARTIKEL LEPAS

Gereja & Restoran
oleh : Iskandar Saher
Pengantar
Apa hubungan antara Gereja dengan Restoran? Mungkin tak ada! Yang ada kadang orang pulang dari Kebaktian Minggu di gereja langsung pergi makan ke restoran; atau ada pengusaha restoran yang rajin pergi ke gereja. Memang tidak ada hubungan langsung antara gereja dengan restoran. Judul ini dibuat begini hanya dalam rangka pembandingan.
Walaupun tak ada hubungan langsung di antara gereja dengan restoran, tapi keduanya pada dasarnya menawarkan sesuatu untuk “dibeli” atau “dinikmati” oleh pengunjungnya. Sebuah restoran menawarkan makanan bagi pengunjung, gereja juga menawarkan makanan. Wujud makanan yang ditawarkan memang berbeda, tapi keduanya menawarkan sesuatu, yang oleh restoran dan gereja disebut makanan. Yang satu oleh orang Kristen disebut menawarkan makanan “jasmani,” sedang yang satunya lagi makanan rohani, itulah sebabnya (walaupun tidak tepat benar) dalam doa makan sering ungkapan makanan jasmani ini muncul.
Saya ingin membandingkan antara gereja dengan restoran karena ada penampakan yang menarik, yaitu restoran selalu penuh pengunjung, sementara gereja sering sepi pengunjung. Ada gereja yang mengaku bahwa anggotanya 2.000 orang, tapi yang hadir secara rutin ke Kebaktian Minggu rata-rata 1.000 orang. Jumlah ini semakin terlihat kecil pada saat kita pergi ikut dalam Kebaktian Rumah Tangga, atau Persekutuan Doa, atau Pemahaman Alkitab (PA), Persekutuan Remaja/Pemuda dan kegiatan lainnya. Pada pihak lain, restoran tidak punya anggota yang terdaftar tapi sering penuh sesak dengan pengunjung, bahkan untuk mendapat tempat duduk untuk menikmati makanannya sering harus antre. Tidak bisakah gereja penuh sesak seperti restoran? Apakah kebutuhan terhadap makanan “rohani” lebih kurang penting
dibandingkan dengan kebutuhan makanan “jasmani” kita?

Pemenuhan Kedua Kebutuhan
Kebutuhan kita terhadap makanan “rohani” dan “jasmani” sebetulnya sama. Hanya seringkali makanan “rohani” itu tidak lagi disuplai oleh gereja, tapi oleh “agama” atau aliran lain. Ini terlihat dari penampakan pada masa modern ini yang dengan jelas memperlihatkan manusia kosong rohaninya dan teralienasi (terasing) dari dunianya.
Para akademisi mengatakan bahwa agama tidak akan pernah hilang, bahkan akan semakin berperan penting dalam kehidupan manusia. Ini disebabkan oleh adanya kekosongan jiwa pada manusia modern yang sibuk. Kesibukan kerja membuat orang kelelahan psikologis dan fisik. Karena itu banyak profesional dan orang berduit yang larut dalam dugem (singkatan orang Jakarta untuk “dunia gemerlap”) seperti night club, cafe dan berbagai dunia hiburan malam. Mereka bersedia menghamburkan uang sampai puluhan juta semalam hanya untuk mengisi kekosongan jiwa setelah seharian penuh bekerja. Di negara tertentu para eksekutif pulang dari tempat kerja langsung pergi ke tempat hiburan malam bersama teman-teman sekantor untuk minum sampai mabuk sambil berkaraoke, baru pulang ke rumah, dan besok pagi bangun langsung pergi ke tempat kerja. Gejala ini menjadi indikator bahwa ada sesuatu yang hilang dari dunia orang-orang yang sibuk ini. Ini biasanya disebut sebagai kekosongan rohani.
Kalau kita mau melihat perkembangan agama, ada indikator lain lagi yang dapat kita temui sebagai indikator bahwa manusia modern yang sibuk ini masih tetap memerlukan makanan “rohani.” Di sekitar kita bermunculan berbagai aliran gereja baru yang dulu tidak ada. Mereka ini datang dengan berbagai nama dan dari berbagai negara. Kalau kita telusuri asal-usul gereja-gereja ini, ternyata mereka berasal dari luar negeri; produk import. Ada juga kebaktian-kebaktian di Hotel berbintang dengan para penyanyi terkenal dan pengkhotbah yang membuat orang terbuai dan tertawa. Dan, ternyata cukup banyak diminati, sehingga ada banyak anggota gereja kita yang lari ke sana. Kalau dicermati lagi, ternyata mereka cukup berhasil memanggil kembali orang-orang Kristen yang tidak pernah kelihatan hadir dalam kegiatan gereja dan mereka yang kelihatan sudah malas-malasan pergi ke gereja. Ternyata mereka yang tidak mau ke gereja itu masih menginginkan makanan “rohani” yang cukup lama tidak mereka dapatkan di gerejanya.
Selain munculnya banyak aliran baru dalam gereja, di negara lain dan kota besar di Indonesia muncul pula agama-agama baru. Di Amerika Utara, misalnya, muncul kelompok-kelompok yang dipimpin oleh para “guru” dari Timur (pada umumnya dari India) yang menawarkan agama baru yang merupakan perpaduan agama Kristen dan agama dari Timur lainnya. Untuk sekedar menyebut salah satu “guru” terkenal dapat disebut Shai Baba. Dia ini sangat terkenal, bahkan di Indonesiapun cukup banyak pengikutnya; bahkan ada orang Kristen yang menjadi pengikutnya. Selain itu, di tanah air juga sekarang ini marak berbagai aliran yang menawarkan metode meditasi untuk menenangkan jiwa atau mengoptimalkan tenaga dalam manusia. Hal ini ditambah lag dengan semakin banyaknya peminat berbagai tayangan tv mengenai dunia lain (mistik). Rating tayangan seperti ini cukup tinggi. Rupanya, walaupun di beberapa negara barat gedung gereja semakin kosong, bahkan ada yang dijual, atau hanya dipenuhi oleh para pensiunan, minat orang terhadap makanan ”rohani” masih tetap tinggi. Hal yang sama juga terjadi di negara kita.
Gejala lain manusia modern yang sibuk adalah bahwa mereka terasing dari dunianya. Mereka ini bukan hanya tidak pernah menginjakkan kaki di antara hutan dan bebatuan, tapi juga hampir tidak kenal tetangganya. Rumah dikelilingi tembok yang tinggi, dan anak-anak hanya bermain di dalam rumah atau ke mall atau di depan perangkat komputer dan tv. Ini terjadi karena para orang tua sibuk bekerja dari pagi hingga malam hari, sehingga tak ada waktu untuk sekedar bertegur sapa dengan tetangga. Kalaupun ada yang ingin bertandang ke tetangga, belum tentu tetangga senang didatangi, karena itu akan mengganggu privasi mereka.
Beberapa gejala ini dapat diduga sebagai indikator bahwa makanan “rohani” itu masih sangat diperlukan oleh manusia. Hanya, gereja tidak mampu menawarkan makanan “rohaninya” sehingga kurang diminati. Restoran diminati, walaupun di rumah ada cukup makanan, tapi gereja kurang diminati walaupun di rumah tak tersedia makanan “rohani.”
Beberapa gejala ini dapat diduga sebagai indikator bahwa makanan “rohani” itu masih sangat diperlukan oleh manusia. Hanya, gereja tidak mampu menawarkan makanan “rohani” sehingga kurang diminati. Restoran diminati, walaupun di rumah ada cukup makanan, tapi gereja kurang diminati walaupun di rumah tak tersedia makanan “rohani.”

Gereja sebagai Restoran
Mengapa sebuah restoran banyak pengunjungnya? Jawaban yang paling utama adalah karena masakannya enak. Namun, masakan enak tidak cukup menjamin pengunjung akan tetap memadatinya, dan yang lebih penting, belum tentu restoran itu dapat bertahan lama. Bagaimana kalau pelayannya judes dan melayani ogah-ogahan? Bagaimana seandainya tempatnya menjadi kotor dan bau apakah orang masih akan tetap makan di situ? Atau bagaimana kalau juru masaknya keluar dari restoran itu apakah restorannya masih akan disenangi pelanggan; bahkan apakah masih akan tetap bertahan?
Ada sebuah restoran yang sangat digemari orang karena masakannya enak. Pada setiap waktu makan pengunjung membludak, sampai harus antre untuk dapat tempat duduk. Suatu hari juru masak restoran ini ditawari menjadi juru masak di restoran di seberang jalan dengan gaji tiga kali lipat ditambah fasilitas perumahan dan antar jemput. Mendapat tawaran ini kemudian si juru masak minta dinaikkan gajinya empat kali lipat kepada si pemilik restoran tempatnya sedang bekerja. Si pemilik tidak bisa menaikkan gajinya begitu besar, akhirnya si juru masak keluar dan pindah ke restoran di seberang jalan. Karena si juru masak pindah, maka restoran ini jadi sepi pengunjung, dan setelah tiga bulan memutuskan ditutup. Hanya karena si juru masak pindah maka restoran yang dibangun dengan susah payah jadi bangkrut.
Cerita ini ingin menunjukkan bahwa hanya salah satu aspek dalam pengurusan restoran hilang maka restoran hancur. Ada berbagai aspek lagi yang juga bisa menghancurkan restoran ini. Misalnya cara melayani yang ramah, kebersihan restoran, managemen keuangan yang baik, tersedia juru masak yang lebih dari satu, pilihan menu yang beragam, penggajian karyawan yang memadai dll. Semua ini diperlukan agar restoran ini mempunyai kapasitas yang baik untuk dapat menjadi restoran yang disenangi dan bisa berjalan dengan baik dan bertahan lama. Kapasitas yang baik ini juga sangat diperlukan jika restoran ini ingin meminjam tambahan modal dari bank. Tanpa kapasitas yang baik maka sulit menjadi restoran yang mampu menarik pengunjung dan mendapat pinjaman modal.
Kapasitas secara sederhana dapat dikatakan sebagai “kemampuan yang dimiliki oleh lembaga agar dapat melakukan pekerjaannya dengan baik.” Bagi restoran ini kemampuan yang perlu dimiliki adalah kemampuan memasak dan menyajikan makanan dan minuman yang enak; kemampuan menggaji karyawan dengan baik; kemampuan menjaga kebersihan; kemampuan melayani tamu dengan sopan dan ramah; kemampuan mengelola keuangan; kemampuan mendapatkan ijin usaha; dll. Tanpa kemampuan ini sulit bagi restoran untuk bertahan hidup dan bersaing dengan restoran lain.
Kapasitas berbeda dengan keterampilan (skill). Keterampilan adalah “kemampuan yang dimiliki oleh seseorang dalam melakukan sesuatu.” Seorang juru masak memiliki kemampuan untuk memasak dan menyajikan makanan, sementara seorang cleaning service mempunyai kemampuan untuk membersihkan ruangan. Keterampilan akan hilang bersama dengan perginya orang itu. Oleh karena itu, begitu juru masak handal keluar maka keterampilannya memasak dia bawa keluar, sehingga keterampilan itu hilang dari restoran tempatnya dulu pernah bekerja. Sebaliknya, kapasitas adalah kemampuan yang lekat pada lembaga. Seandainya seorang juru masak keluar masih ada kemampuan memasak pada restoran, sehingga restoran itu akan tetap dapat menyajikan masakan yang sama rasa dan kualitasnya. Agar ada kapasitas dalam memasak pada restoran itu maka perlu ada lebih dari satu juru masak yang memiliki keterampilan yang relatif sama, sehingga seandainya juru masak itu sakit atau keluar, restoran tetap dapat melakukan bisnis.
Bagaimana dengan gereja? Apakah gereja perlu kapasitas yang baik? Jawabnya: “Tentu saja!” Pada masa kini kebutuhan terhadap kapasitas gereja yang baik semakin besar. Ambillah contoh sederhana seorang pelayan firman. Kalau dulu mungkin seorang pelayan firman yang tamat SLTP mendapat kursus Alkitab enam bulan sudah memadai, sebab sebagai seorang pelayan firman suaranya tetap didengar dan diterima oleh jemaat dan masyarakat. Kini kapasitas yang seperti ini sudah sulit diandalkan, apalagi di kota besar yang rata-rata pendidikan anggota jemaatnya tinggi.anggota jemaatnya tinggi.
Kapasitas yang diperlukan oleh gereja tentu saja berbeda dengan kapasitas restoran, walaupun untuk beberapa aspek sama, misalnya kapasitas mengelola
keuangan dengan baik. Kapasitas dari satu gereja dengan gereja lain juga bisa saja berbeda, tergantung dari apa yang ditawarkan oleh gereja itu dan kepada siapa itu ditawarkan.
Untuk membangun kapasitas gereja yang baik perlu terlebih dulu menentukan apa yang ditawarkan oleh gereja itu. Bayangkanlah sebuah gereja seperti dengan restoran atau warung makan. Tentukan dulu apa menu yang akan ditawarkan; apakah itu seafood atau chinese food atau javanese food atau mie atau ayam goreng atau soto atau apa? Setelah itu cari tau bagaimana selera orang sekitar itu; apakah pedas, asin, manis, atau kecut? Apakah orang-orang sekitar itu senang makan banyak dengan porsi besar, atau porsi kecil karena kebanyakan diet? Apakah orang-orang situ kaya atau orang sederhana? Setelah kita tahu selera orang yang kita bidik untuk menjadi pembeli barulah dapat kita tentukan apa saja kapasitas yang perlu dibangun agar jualan kita laris.
Tentu saja ada yang tidak setuju dengan pembandingan gereja dengan restoran ini, karena gereja tidak boleh mengikuti selera manusia, tapi selera Tuhan. Itu betul! Tapi, bukankah Tuhan Yesus juga memakai cara-cara yang sesuai dengan kondisi dan “selera” orang di jamanNya untuk menyampaikan keselamatan? Dia berbicara dengan gaya bahasa orang di sekitarnya; Dia memakai perumpamaan yang akrab bagi para pendengarNya; memakai kiasan sumur, air dan gunung pada perempuan samaria (Yoh. 4), bahkan Tuhan datang sebagai manusia seperti kita. Kita masih bisa melanjutkan daftar ini dari PL sampai PB tentang menyampaikan kabar keselamatan dengan cara yang sesuai dan dimengerti oleh pendengarnya. Yang penting di sini adalah kabar yang disampaikan itu berasal dari Tuhan, tetapi cara menyampaikannya itu yang perlu sesuai dengan “selera” orang di sekitarnya. (Bersambung)
-----------------------------------------------------

BERBAGI

Bermula Dari Sepucuk Surat Dari Wonogiri

Oleh : Pdt. Setyo Utomo*


Teman-teman pendeta sesinode GKJ mungkin mengenal P3H hanya lewat buletin-buletin yang diterbitkannya. Sebagian lagi mungkin tahu kalau orang GKJ yang ada di kepengurusan P3H adalah Pdt. Bambang Muljatno. Tidak ada lagi pengetahuan yang lain. Mungkin ada yang lain yaitu mereka yang pernah ikut berproses sehingga terbentuknya lembaga P3H. Namun sayang proses-proses itu tidak sempat tersosialisasikan sehingga pada akhirnya memang tidak salah jika mengenal P3H hanya sebatas buletin dan nama Pdt. Bambang. Kenyataan ini yang akhirnya mendorong persidangan sinode mengambil keputusan untuk melakukan sosialisasi mengenai keberadaan P3H.
Yang tidak dapat kita pungkiri sebenarnya lewat buletin P3H kita juga bisa menyerap siapa dan bagaimana P3H itu. Melalui buletin tersebut acapkali ditampilkan kegiatan-kegiatan yang pernah dilakukan dan yang sedang dilakukan. Sehingga paling tidak kita yang ajeg (rutin) menerima buletin tersebut dapat membaca “Bleger”’ (bentuk) dan kiprahnya. Namun sekali lagi fakta ini tetap dirasa kurang cukup untuk mengasumsikan bahwa gereja-gereja sesinode GKJ tahu dan mengenal P3H.

Bertemu dengan Dirlak P3H dan CRWRC
Dalam suatu kegiatan tim penyempurnaan Renstra sinode pada 13-14 Desember 2002, bertempat di Wisma Erika, Bandungan, diundang di dalamnya Dirlak P3H dan CRWRC untuk ikut menjadi narasumber. Di kesempatan tersebut saya bertemu dan berkenalan dengan Pak Iskandar Saher dan Pak Nick Armstrong. Karena saya punya kepentingan dengan P3H maka pada saat itu saya kemukakan hal kebutuhan sinode GKJ akan perlunya sosialisasi P3H di lingkungan Gereja-gereja GKJ. Pada saat itu juga kami bersama punya komitmen untuk suatu saat bertemu bercakap secara intensif tentang kebutuhan tersebut.
Dari sejak bertemu di Bandungan hingga akhir 2003, kami saling kehilangan kontak, sibuk dengan kegiatan kami masing-masing. Saya baru disadarkan ulang ketika datang sebuah surat dari klasis Wonogiri yang mempertanyakan artikel tentang sosialisasi P3H. Membaca surat ini ada yang sesuatu yang menarik di benak saya bahwa ternyata P3H benar-benar diperlukan oleh gereja-gereja sesinode sampai-sampai salah satu klasis mempertanyakan hal itu. Selanjutnya surat dari klasis itu saya teruskan ke P3H dengan maksud menggugah ulang komitmen yang pernah disangggupi

Perwujudan Komitmen
Tak berselang lama, kespel Sinode GKJ kemudian bercakap-cakap secara intensif dengan P3H. Dari percakapan-percakapan itu muncul beberapa hal yang dirasa menjadi kebutuhan bersama dan dapat dilaksanakan secara bersama-sama pula.
Waktu itu, P3H juga mempunyai kebutuhan untuk semakin dikenal di antara sinode-sinode pendirinya, sehingga P3H mengusulkan bahwa sosialisasi baik kalau diperluas tidak hanya dalam lingkup sinode GKJ melainkan kepada seluruh deputat/departemen/parpem pendiri P3H. Maka dibentuklah sebuah panitia kecil untuk melaksanakan kegiatan ini. Dan Kespel Sinode GKJ dipercaya menjadi tuan rumahnya.
Ide itu bergulir hingga terlaksananya sebuah pertemuan kespel P3H pada tanggal 11-13 Mei 2004 yang lalu. Sebelumnya ada kekhawatiran panitia bahwa kegiatan ini akan kurang mendapat respon positif dalam tingkat kehadiran peserta. Namun kekhawatiran itu tertepis setelah pelaksanaan. Rupanya antusiasme peserta cukup baik. Sharing dan presentasi pembicara mendapatkan perhatian yang serius.
Segala sesuatu yang baik dan memuaskan tidak datang dengan sendirinya. Kami, sinode GKJ telah melakukannya. Melalui dan bersama P3H, kami merasakan kerjasama yang saling menguntungkan untuk semua pihak. Kerjasama awal dalam pelaksanaan pertemuan Kespel bagi kami sudah merupakan langkah awal yang baik untuk ditindaklanjuti, mungkin berikutnya sinode lain anggota P3H dapat menangkap inisiatif ini, sekali lagi melalui dan bersama P3H.
Akhirnya, selamat melaksanakan pelayanan yang holistik. Holistik, kurang lebih bagi saya, Holly= kudus, stick = tongkat. Jadi Anda sedang memegang tongkat suci untuk melakukan pelayanan yang suci pula. (*penulis adalah Sekretaris Deputat Kesaksian dan Pelayanan Sinode GKJ)